Halaman

STATUS HARI INI

" S E L A M A T - D A T A N G - D I - B L O G - I N I - S E M O G A - B E R M A N F A A T - U N T U K - M E R E B U T - K E M B A L I - K E M E R D E K A A N - Y A N G - T E R T U N D A "

Sabtu, 03 November 2012

Pertalian Kapitalisme dan Pendidikan


kaum proletariat membutuhkan sebuah sekolah gratis... sekolah bukan perbudakan dan mekanisasi...sekolah profesional tidak harus menjadi inkubator monster kecil,yang di didik membosankan  oleh pekerjaan,tanpa ide-ide dan budaya, tanpa semangat dan dengan hanya mata yang tajam dan tangan yang kuat (Gramsci, 1917).


Objektif
Pandangan kritis terhadap proses penyelenggaraan pendidikan pada dasarnya tidak pernah terbebas dari “kepentingan  politik”,  yang dengannya ia muncul sebagai alat untuk melanggengkan sistem sosial ekonomi maupun kekuasaan yang ada. Mengapa demikian? Karena dalam corak, watak, dan kualitasnya, ilmu pengetahuan yang diajarkan di bangku sekolah dan perkuliahan tidak berkembang secara mandiri atau acak, tetapi ia menjadi bagian sebab dan akibat gejolak dari masyarakatnya, termasuk perbedaan kepentingan antar berbagai kelompok sosial.Dengan demikian ilmu pengetahuan bukan saja mempelajari semua itu, tetapi juga menjadi bagian dari proses yang dipelajarinya. Sehingga tidak jarang hari ini kita menemukan bahwa pendidikan tidak lebih dari sebagai sarana untuk mereproduksi sistem dan struktur sosial yang tidak adil seperti relasi kelas, relasi gender, relasi rasisme ataupun sistem relasi lainnya.Tulisan ini secara singkat memberikan pemahaman kritis terhadap modus produksi kapitalis, yaitu tentang bagaimana Lembaga pendidikan hari  ini dijadikan media untuk mereproduksi sistem sosial yang dominan, dimana lembaga pendidikan tidak hanya merupakan proses pengajaran atau pelatihan kerja tetapi juga sebagai pendukung utama bagi kapitalisme global.

Sejarah Pendidikan Indonesia dan Semangat Nasionalisme: Sebuah Refleksi Singkat
Dalam rangka mengawali analisa kita terhadap dunia pendidikan di indonesia, maka kita perlu merefleksikan sejarah cikal-bakal sekolah atau lembaga pendidikan di Indonesia. Menjelang akhir abad ke-19, pemerintah belanda menyadari bahwa harapan optimistik periode liberal awal belum terpenuhi. Di jawa terjadi penurunan kesejahteraan, suatu kenyataan perkembangan ekonomi di wilayah kolonial tidak dapat membebaskan inisiatif individual sehingga secara sadar pemerintah kolonial harus melakukan upaya positif untuk mendorong usaha ekonomis penduduk pribumi. Sejak itulah pemerintah Belanda berupaya memberikan kontribusi positif bagi tercapainya kesejahteraan penduduk pribumi dengan cara membangun irigasi, pendidikan, dan kesehatan (baca: politik etis).
Pembangunan irigasi akan memberikan keuntungan besar bagi perkebunan tebu yang jumlahnya sebanyak populasi pertanian. Pelayanan kesehatan sebagian berkaitan erat dengan kebutuhan dari berbagai perusahaan akan tenaga kerja yang secara fisik baik kemudian sepanjang melebihi pengajaran dasar sekolah desa pendidikan terutama memberikan pelatihan untuk tenaga administratif (juru tulis) dalam badan-badan pemerintahan (Wertheim 1999). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pelayanan sosial yang berasal dari “politik etis” menjadi subjek bagi pengaruh perusahaan-perusahaan perkebunan berskala besar. Pada periode ini reaksi penduduk pribumi terhadap rangsangan ekonomi dari barat sama sekali tidak sekedar pasif.Hal ini ditandai dengan meningkatnya usaha sebagian masyarakat indonesia untuk memperbaiki status ekonomi mereka, sehingga pada masa itu banyak orang yang melakukan perngorbanan besar yang layak dilakukan untuk memperoleh pendidikan guna meningkatkan perbaikan diri dan anak-anaknya. Tetapi dalam kelompok-kelompok sosial tertentu tumbuh juga anggapan mengenai arti penting kerjasama saling menguntungkan masalah ekonomi.
Kerjasama ini muncul dalam berbagai bentuk yang berbeda-beda seperti serikat kerja, koperasi, dan gerakan politik, misalnya pada waktu itu adalah Sarekat Islam. Kerjasama dan konsentrasi kekuasaan dalam bidang yang murni ekonomi (serikat kerja dan koperasi), jika dipandang besar ukuran dan kekuatannya masih jauh tertinggal yang dicapai oleh barat. Meskipun demikian kerjasama ini menjadi cikal bakal munculnya semangat nasionalisme. Disini Peran posisi pendidikan menjadi ganda, selain pendidikan digunakan sebagai media reproduksi tenaga kerja oleh belanda untuk mengisi suplai tenaga kerja di perusahaan-perusahaan perkebunan milik belanda dan badan-badan pemerintahaan, ia juga yang membangkitkan kesadaran perlawanan masyarakat indonesia yang ditandai dengan berdirinya Budi Utomo dengan semangat nasionalismenya.

Negara, Pasar dan Pendidikan
Penjelasan diatas merupakan refleksi sejarah indonesia tentang muculnya pendidikan sekarang kita beralih pada periode dimana kapitalisme telah berdiri kokoh. Dari pengalaman negara-negara kapitalis tahap lanjut pendidikan (dalam hal ini pendidikan tinggi) menjadi arena tarik-menarik antara negara dan pasar. sehingga bentuk sistem pemerintahan disuatu negara akan menentukan kecenderungan secara eksterim apakah pendidikan tinggi berada di bawah ketiak negara atau masuk dalam cengkeraman pasar (Hugroho, 2006). Apabila sebuah negara menganut sistem ekonomi sentralistik maka pendidikan tinggi cenderung menjadi subordinasi atas negara dan menjadi salah satu instrumen politik kekuasaan. Negara melakukan intervensi terhadap kebijakan pendidikan tinggi dengan kompensasi seluruh aspek pembiayaan ditanggung oleh negara. Sedang dalam sistem ekonomi liberal sektor pendidikan tinggi akan dipengaruhi secara signifikan oleh mekanisme pasar. negara tidak banyak memberikan bantuan finansial dan tidak mencampuri kebijakan pendidikan tinggi namun pembiayaan pendidikan diserahkan oleh pasar. Model kedua ini ada kecenderungan bahwa biaya pendidikan menjadi mahal sehingga kaum miskin memerlukan proteksi agar dapat mengaksesnya.
Disisi lain apapun bentuk dari sistem pendidikan seperti yang dijelaskan diatas, suatu kenyataan bahwa organisasi dunia seperti WTO dan Bank Dunia memperlakukan pendidikan seperti yang mereka lakukan pada industri dan semakin mendesak (dengan hak kekayaan intelektual ataucara lain) bahwa kebijakan pendidikan harus didefinisikan di tingkat nasional dan internasional (World Bank, 1994; Jarzabkowski, 2002). Globalisasi dan liberalisasi pasar berfungsi untuk menggantikan konsep pendidikan sebagai penyediaan kebutuhan dasar sosial dan hak asasi manusia sehingga pendidikan hanya dilihat sebagai komoditi (meskipun satu ideologi penting) di pasar. Semakin, struktur pendidikan telah dibongkar dan diganti dengan kebijakan dan prosedur baru yang bertujuan untuk restrukturisasi pendidikan yang mengikuti tren global menujuk orporatisasi dan untuk menciptakan sektor "pasarresponsif". Akibatnya, pelayanan pendidikan berkualitas tinggi menjadi bermasalah, dengan beban penyesuaian bergeser dari negara ke individu dalam bentuk biaya kuliah meningkat dan jasa menurun.

Proses ini juga melibatkan replikasi hubungan produksi kapitalis dalam pendidikan.Produktivitas pekerja diukur dalam hal distribusi nilai. Siswa dipandang sebagai "klien" dan mereka adalah "produk" ketika mereka lulus dan mencari pekerjaan. Ukuran kuantitatif secara universal diadopsi untuk menentukan keberhasilan relatif dari institusi pendidikan. Meminjam istilah Barrett (2006) seluruh sistem perguruan tinggi dan universitas adalah “edupreneur yang memiliki arti seorang ahli yang memiliki semangat tinggi dan terampil dalam seni "menjual" disiplin ilmu yang mereka dapatkan dan mengamankan dana dari beragam sumber, terutama pada sektor swasta.

Kapitalisme dan Pendidikan
Persoalan kapitalisme bukan sekedar justifikasi terhadap individu-individu dalam sebuah masyarakat, akan tetapi persoalan kapitalisme adalah persoalan “the power of system” yang bekerja dalam sebuah institusi-institusi masyarakat, mengapa demikian? karena definisi dari masyarakat bukan penjumlahan dari individu-individu didalamnya, masyarakat memiliki pengertian tersendiri meskipun didalam sebuah masyarakat terdapat individu-individu, tetapi  bukan berarti penjumlahan atas individu-individu tersebut melainkan “sistem” yang mempengaruhi cara individu-individu itu berelasi satu sama lain. Dengan demikian kita dapat mengerti bahwa persoalan sistem yang bekerja dalam sebuah masyarakat akan sangat bergantung pada kekuatan apa yang menjadi dasar pijakan dari sistem tersebut.
Kapitalisme menjadi kata kunci yang sangat berarti disini ketika kita pahami bahwa kapitalisme merupakan sebuah sistem sosial yang paling dominan diantara yang lainnya. Artinya kapitalisme merupakan salah satu dari sistem sosial yang pernah ada. Kenapa ia yang paling dominan? Tentu kita harus melihat sejarah panjang yang dimulai dari abad ke-XIV hingga hari ini (baca: sejarah kapitalisme). Namun dalam tulisan ini saya tidak akan menjelaskan tentang sejarah perkembangan kapitalisme tetapi lebih kepada logika kapitalisme itu bekerja. Kapital adalah sebuah proses yang memiliki kecenderungan memvalorisasi dirinya melalui sebuah sirkuit kapital, artinya bahwa sesuatu komoditi yang bersifat materil maupun materil bisa dikatakan sebagai kapital ketika ia dimasukkan dalam sirkuit kapital untuk profit making. Karakter dari profit making ini memiliki kecendrungan tak berhingga sehingga inilah yang kita sebut dengan akumulasi yang tak berbatas. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa kapitalisme adalah sistem ekonomi dan sosial yang memiliki dua karakter, pertama: motif profit dan kedua: adalah kontrol terhadap sarana produksi distribusi dan pertukaran oleh kepemilikan pribadi.
Kedua karakter ini menjadi penting untuk melihat bagaimana logika kapitalisme itu bekerja menmbentuk lingkaran spiral yang semakin membesar dan tak terbatas. Hal ini memberikan implikasi yang bersar terhadap relasi sosial dalam sebuah masyarakat. Relasi yang terbentuk adalah relasi sosial berdasarkan logika ekonomi pasar. penting untuk kita pahami bahwa relasi sosial yang kapitalis ini bukanlah sesuatu yang alamiah terbentuk seperti yang dikatakan adam smith (baca: Adam Smith) melainkan ia terbentuk secara historis. Karena ada masa dimana relasi sosial itu tidak sepenuhnya pasar.
Syarat dari produksi kapitalisme agar tetap berlangsung adalah adanya persediaan cadangan tenaga kerja yang terampil dan berpendidikan, sehingga disini tampak seperti hukum alam ketika disatu sisi pendidikan mencetak buruh terampil dan dengan sendirinya mereka bebas mencari industri yang membutuhkan tenaga dan keterampilan mereka. Lembaga pendidikandianggapsebagaimesinpencetak tenaga kerja terampil yang dengan nya siswa diberikan pelatihan dalamketerampilan-keterampilankhusus yang diperlukanuntukpekerjaanyang dibutuhkandi pasar global. Siswa didorong untuk memilih program kejuruan yang relevan, studi seperti manajemen keuangan, studi komputer dan administrasi bisnis atau ketrampilan teknis seperti mungkin diperlukan dalam rekayasa teknik. Jika sosiologi dan psikologi yang disertakan, mereka diarahkan untuk menemukan tempat yang mereka sukai dalam strategi pemasaran dan teknik manajemen, jika perkembangan bahasa dipandang layak, itu adalah dalam bentuk komunikasi perusahaan dan penulisan laporan teknis, bukan sastra yang mengandung pesan-pesan moral.
Ekspansi sistem kapitalisme kedalam dunia pendidikan telah menciptakan sebuah kondisi kesalingberhubungan antara logika pendidikan dengan logika kapitalisme. Pendidikan kemudian menampakkan dirinya sebagai mesin kapitalisme, mesin dimana ia bekerja menciptakan citra-citra baik itu lembaga, individu dan pengetahuan dimana ia bisa dijadikan sebagai ladang untuk mencari keuntungan (Yasraf, 2004). Pendidikan yang seharusnya dibangun dengan nilai-nilai objektivitas, keilmiahan dan kebijaksanaan kini dimuati oleh nilai-nilai komersil, sebagai refleksi dari keberpihakan pada kekuasaan kapital. Sehingga memungkinkan terciptanya sebuah relasi baru pengetahuan, yang tidak saja relasi kekuasaan atau pengetauan tetapi juga relasi sosial yang transaksional terhadap pengetahuan.

Penutup
Pendidikan tidak pernah berdiri bebas tanpa berkaitan secara dialektis dengan lingkungan dan sistim sosial dimana pendidikan diselenggarakan. Oleh karena itu, proses pendidikan sebagai merupakan proses pembebasan yang tidak pernah terlepas dari sistem dan struktur sosial, yakni konteks sosial yang menjadi penyebab atau yang menyumbangkan proses dehumanisasi dan keterasingan pada waktu pendidikan diselenggarakan. Era Globalisasi Kapitalisme seperti saat ini, pendidikan dihadapkan pada tantangan bagaimana mengkaitkan konteks dan analisis isinya untuk memahami globalisasi secara kritis.
Dalam perspektif kritis, tugas pendidikan adalah melakukan refleksi kritis, terhadap sistem dan ‘ ideologi yang dominan’ yang tengah berlaku dimasyarakat, serta menantang sistem tersebut untuk memikirkan sistem alternatif kearah transformasi sosial menuju suatu masyarakat yang adil. Tugas ini dimanifestasikan dalam bentuk kemampuan menciptakan ruang agar muncul sikap kritis terhadap sistem dan sruktur ketidak adilan sosial, serta melakukan dekonstruksi terhadap diskursus yang dominan dan tidak adil menuju sistem sosial yang lebih adil. Pendidikan tidak mungkin dan tidak bisa netral, obyektif maupun “detachmen” dari kondisi masyarakat.

Daftar Pustaka
Amir Piliang Y, Dunia Yang Dilipat, Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan, Yogyakarta: Jalasutra, 2004.
Harvey. David, Neoliberalisme dan Restorasi Kelas Kapitalis, Yogyakarta: Resist Book,2009
Meaghan, Barrett, Postsecondary and the Ideologi of Capitalist Production, Canada: The Innovation Journal,2006.
Niel. Robert V, Munculnya Elit Modern Indonesia, Jakarta: Pustaka Jaya, 2009.
Santoso. Listiyono, Sunarto, Epistemologi Kiri, Yogyakarta: Ar-ruzz, 2003.
Wertheim, Masyarakat Indonesia Dalam  Transisi, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1999.